Ketuklah Pintu Itu
Popularity · Low
YouTube
Searching YouTube...
Lyrics
Ketuklah Pintu Itu
Hening sunyi di sepertiga malam
Hati bergemuruh, mataku tak lelap
Kuambil wudhu, sajadah kubentang di temaram
Wahai Tuhan, di haribaan-Mu aku menghadap
Tuhan, izinkan kuberteduh di naungan-Mu
Dari segala cerca dunia yang lukai hati
Ampuni mereka, karena mereka tak tahu
Demi ridha-Mu kujaga diri dan jiwa ini
Mereka bertanya, "Kapan nikahnya?"
Menuding, "Jangan sok jual mahal, dan pilih-pilih"
Mencerca, "Tak takutkah jadi perawan tua?"
Sering kusenyumi, namun terkadang menyayat perih
Tuhan, janji-Mu suci abadi
Pria yang baik untuk wanita yang baik
Kuatkanku dalam penantian nan suci
Meski hati didera rindu, kasih-Mu yang terbaik
Reff
Bukan karena tak ingin dicinta
Namun kubukan persinggahan sementara
Dan aku bukanlah halte cinta
Aku rumah, tempat berlabuh jiwanya
Sekian purnama berlalu, hatiku merindu...
Naluri lemah ini cenderung pada dia...
Yang tak ingin kusebut namanya di kalbu
Akankah dia ketuk pintu rumah hamba?
Sekian purnama berlalu dalam sunyi
Beberapa pria datang mendekati
Namun mereka hanya ingin sekadar jalani
Tak berani temui ayahku yang menanti
Pasir waktu menghanyutkan badan diri
Dan penantian ini makin panjang
Hanya pada-Mu kuserahkan nasib ini
Kusabar dalam janji-Mu nan benderang
Reff
Bukan karena tak ingin dicinta
Namun kubukan persinggahan sementara
Dan aku bukanlah halte cinta
Aku rumah, tempat berlabuh jiwanya
Siang terik itu, di kelas satu es-de binakarya sekolah
Seorang pemadam kebakaran buat para muridku terkesima
Dia kenalkan mulianya kerja tanpa lelah
Pribadi hangat, yang tanyakan tempat sholat di mana
Dia lanjut tunjukkan mobil pemadam kebakaran
Anak-anak muridku berlarian ingin menaikinya
Dia naikkan mereka satu per satu, tanpa beban
Seorang anak tak mau turun dari pundak kokohnya
Kuhidangkan makan siang untuk dia dan temannya
Dia berterima kasih dan kami bercerita sekadarnya
Tak kulihat cincin di jari manisnya
Dia minta nomorku untuk koordinasi laporan kerja
Dua purnama berlalu, sesekali dia tanyakan kabar
Tak pernah dia terlalu ingin tahu tentangku
Tak pernah juga dia ajakku untuk kopdar
Kumaklumi tanggung jawabnya yang sibuk selalu
Reff
Bukan karena tak ingin dicinta
Tapi aku bukanlah halte cinta
Oh, Tuhan Engkau lebih tahu asa di dada
Adakah yang akan mengetuk pintu nelangsa?
Satu purnama berlalu, malam itu hujan
Pintu kamarku diketuk ibu dengan berseri
Dia suruhku segera ke ruang depan
Oh Tuhan, apa gerangan yang terjadi?
Jantungku berdegup kala mataku memandangi
Dia yang selalu kusebut dalam doa-doaku
Kini duduk di depan Ayah, sedang mengaji
Mata Ayah berkaca, bilang dia datang melamarku
Wahai Tuhan, kutahu janji-Mu suci abadi
Kau beri yang terbaik, di waktu yang terbaik
Tersungkurku di hadapan kasih-Mu nan hakiki
Segala puji bagi-Mu, Pemberi Rezeki Terbaik