Al-Baqara, Chapter 2, Verse 158 -
Sheikh Mishary Rashid Alafasy
Popularity · Low
Listen
YouTube
0:00 / 0:00
Loading YouTube player...
Lyrics offset
Synced
Lyrics
إِنَّ ٱلصَّفَا وَٱلۡمَرۡوَةَ مِن شَعَآئِرِ ٱللَّهِۖ فَمَنۡ حَجَّ
ٱلۡبَيۡتَ أَوِ ٱعۡتَمَرَ فَلَا جُنَاحَ عَلَيۡهِ أَن يَطَّوَّفَ
بِهِمَاۚ وَمَن تَطَوَّعَ خَيۡرٗا فَإِنَّ ٱللَّهَ شَاكِرٌ عَلِيمٌ
Innash-shafaa wal marwata min sya'aa-irillahi faman hajjal baita
awii'tamara falaa junaaha 'alaihi an yath-thawwafa bihimaa
wa man tathawwa'a khairan fa-innallaha syaakirun 'aliim(un)
Sesungguhnya Shafaa dan Marwa
adalah sebahagian dari syi'ar Allah [102].
Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-'umrah,
maka tidak ada dosa baginya [103] mengerjakan sa'i antara keduanya.
Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan
hati, maka sesungguhnya Allah Maha
Mensyukuri [104] kebaikan lagi Maha Mengetahui."[1]
إِنَّ ٱلَّذِينَ يَكۡتُمُونَ مَآ أَنزَلۡنَا مِنَ ٱلۡبَيِّنَٰتِ
وَٱلۡهُدَىٰ مِنۢ بَعۡدِ مَا بَيَّنَّٰهُ لِلنَّاسِ فِي
ٱلۡكِتَٰبِ أُوْلَٰٓئِكَ يَلۡعَنُهُمُ
ٱللَّهُ وَيَلۡعَنُهُمُ ٱللَّٰعِنُونَ
Innal-ladziina yaktumuuna maa anzalnaa minal bayyinaati wal hudaa min
ba'di maa bayyannaahu li-nnaasi fiil kitaabi
uula-ika yal'anuhumullahu wa yal'anuhumulaa'inuun(a)
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami
turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk,
setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Al Kitab,
mereka itu dila'nati Allah dan dila'nati (pula)
oleh semua (mahluk) yang dapat mela'nati,"[2]
إِلَّا ٱلَّذِينَ تَابُواْ وَأَصۡلَحُواْ وَبَيَّنُواْ
فَأُوْلَٰٓئِكَ أَتُوبُ عَلَيۡهِمۡ وَأَنَا ٱلتَّوَّابُ ٱلرَّحِيمُ
Ilaal-ladziina taabuu wa ashlahuu wa bayyanuu
fa-uula-ika atuubu 'alaihim wa anaattawwaabur-rahiim(u)
dan menerangkan (kebenaran),
maka terhadap mereka itulah Aku menerima taubatnya dan
Akulah Yang Maha Menerima taubat lagi Maha Penyayang."
إِنَّ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ وَمَاتُواْ وَهُمۡ كُفَّارٌ أُوْلَٰٓئِكَ
عَلَيۡهِمۡ لَعۡنَةُ ٱللَّهِ وَٱلۡمَلَٰٓئِكَةِ وَٱلنَّاسِ أَجۡمَعِينَ
Innal-ladziina kafaruu wa maatuu wa hum kuffaarun
uulaa-ika 'alaihim la'natullahi wal malaa-ikati wannaasi ajma'iin(a)
Sesungguhnya orang-orang kafir dan mereka mati dalam keadaan kafir,
mereka itu mendapat la'nat Allah,
para Malaikat dan manusia seluruhnya."
خَٰلِدِينَ فِيهَا لَا يُخَفَّفُ
عَنۡهُمُ ٱلۡعَذَابُ وَلَا هُمۡ يُنظَرُونَ
Khaalidiina fiihaa laa yukhaffafu
'anhumul 'adzaabu wa laa hum yunzharuun(a)
Mereka kekal di dalam la'nat itu;
tidak akan diringankan siksa dari mereka
dan tidak (pula) mereka diberi tangguh."
وَإِلَٰهُكُمۡ إِلَٰهٌ وَٰحِدٞۖ لَّآ
إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلرَّحۡمَٰنُ ٱلرَّحِيمُ
Wa ilaahukum ilaahun waahidun laa
ilaaha illaa huwar-rahmanur-rahiim(u)
Dan Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Esa;
tidak ada Tuhan melainkan Dia Yang
Maha Pemurah lagi Maha Penyayang."[3]
إِنَّ فِي خَلۡقِ ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَٱلۡأَرۡضِ وَٱخۡتِلَٰفِ ٱلَّيۡلِ
وَٱلنَّهَارِ وَٱلۡفُلۡكِ ٱلَّتِي تَجۡرِي فِي ٱلۡبَحۡرِ بِمَا يَنفَعُ
ٱلنَّاسَ وَمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلسَّمَآءِ مِن مَّآءٖ
فَأَحۡيَا بِهِ ٱلۡأَرۡضَ بَعۡدَ مَوۡتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِن كُلِّ
دَآبَّةٍ وَتَصۡرِيفِ ٱلرِّيَٰحِ وَٱلسَّحَابِ ٱلۡمُسَخَّرِ
بَيۡنَ ٱلسَّمَآءِ وَٱلۡأَرۡضِ لَأٓيَٰتٍ لِّقَوۡمٍ يَعۡقِلُونَ
Inna fii khalqis-samaawaati wal ardhi waakhtilaafillaili wannahaari
wal fulkillatii tajrii fiil bahri bimaa yanfa'unnaasa wa maa
anzalallahu minassamaa-i min maa-in fa ahyaa bihil ardha ba'da
mautihaa wa bats-tsa fiihaa min kulli daabbatin wa tashrii-firriyaahi
wassahaabil musakh-khari bainassamaa-i
wal ardhi li-aayaatin liqaumin ya'qiluun(a)
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi,
silih bergantinya malam dan siang,
bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia,
dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air,
lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan
Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan,
dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan
bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan
dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan."
وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَندَادٗا
يُحِبُّونَهُمۡ كَحُبِّ ٱللَّهِۖ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَشَدُّ
حُبّٗا لِّلَّهِۗ وَلَوۡ يَرَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُوٓاْ إِذۡ يَرَوۡنَ
ٱلۡعَذَابَ أَنَّ ٱلۡقُوَّةَ لِلَّهِ
جَمِيعٗا وَأَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعَذَابِ
Wa minannaasi man yattakhidzu min duunillahi andaadan yuhibbuunahum
kahubbillahi waal-ladziina aamanuu asyaddu hubbal(n)-lillahi wa lau
yaraal-ladziina zhalamuu idz yaraunal 'adzaaba annal
quwwata lillahi jamii'an wa annallaha syadiidul 'adzaab(i)
Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah
tandingan-tandingan selain Allah;
mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah.
Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.
Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu
mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat),
bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya,
dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal)."
إِذۡ تَبَرَّأَ ٱلَّذِينَ ٱتُّبِعُواْ مِنَ ٱلَّذِينَ
ٱتَّبَعُواْ وَرَأَوُاْ ٱلۡعَذَابَ وَتَقَطَّعَتۡ بِهِمُ ٱلۡأَسۡبَابُ
Idz tabarraal-ladziina-attubi'uu
minal-ladziina-attaba'uu wa raawuul
'adzaaba wa taqath-tha'at bihimul asbaab(u)
Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari
orang-orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa;
dan (ketika) segala hubungan antara mereka terputus sama sekali."
وَقَالَ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُواْ لَوۡ أَنَّ لَنَا كَرَّةٗ فَنَتَبَرَّأَ
مِنۡهُمۡ كَمَا تَبَرَّءُواْ مِنَّاۗ كَذَٰلِكَ يُرِيهِمُ ٱللَّهُ
أَعۡمَٰلَهُمۡ حَسَرَٰتٍ عَلَيۡهِمۡۖ
وَمَا هُم بِخَٰرِجِينَ مِنَ ٱلنَّارِ
Wa qaalal-ladziina-attaba'uu lau anna lanaa karratan fanatabarraa
minhum kamaa tabarrauu minnaa kadzaalika yuriihimullahu
a'maalahum hasaraatin 'alaihim wa maa hum bikhaarijiina minannaar(i)
Dan berkatalah orang-orang yang mengikuti: "
Seandainya kami dapat kembali (ke dunia),
pasti kami akan berlepas diri dari mereka,
sebagaimana mereka berlepas diri dari kami.
" Demikianlah Allah memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya
menjadi sesalan bagi mereka;
dan sekali-kali mereka tidak akan keluar dari api neraka."
يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ كُلُواْ مِمَّا فِي ٱلۡأَرۡضِ حَلَٰلٗا طَيِّبٗا
وَلَا تَتَّبِعُواْ خُطُوَٰتِ
ٱلشَّيۡطَٰنِۚ إِنَّهُۥ لَكُمۡ عَدُوٌّ مُّبِينٌ
Yaa ayyuhaannaasu kuluu mimmaa fiil ardhi halaalan thayyiban wa laa
tattabi'uu khuthuwaatisy-syaithaani innahuu lakum 'aduwwun mubiin(un)
Hai sekalian manusia,
makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi,
dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan;
karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu."
إِنَّمَا يَأۡمُرُكُم بِٱلسُّوٓءِ وَٱلۡفَحۡشَآءِ
وَأَن تَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعۡلَمُونَ
Innamaa ya'murukum bissuu-i wal fahsyaa-i
wa-an taquuluu 'alallahi maa laa ta'lamuun(a)
Sesungguhnya syaitan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan
keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui."
وَإِذَا قِيلَ لَهُمُ ٱتَّبِعُواْ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ قَالُواْ بَلۡ
نَتَّبِعُ مَآ أَلۡفَيۡنَا عَلَيۡهِ ءَابَآءَنَآۚ أَوَلَوۡ
كَانَ ءَابَآؤُهُمۡ لَا يَعۡقِلُونَ شَيۡٔٗا وَلَايَهۡتَدُونَ
Wa idzaa qiila lahumuuttabi'uu maa anzalallahu qaaluuu bal nattabi'u
maa alfainaa 'alaihi aabaa-anaa awalau kaana
aabaa'uhum laa ya'qiluuna syai-an wa laa yahtaduun(a)
170.
Dan apabila dikatakan kepada mereka: "
Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah," mereka menjawab: "(
Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah
kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami". "(
Apakah mereka akan mengikuti juga),
walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui
suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?".[4]
وَمَثَلُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ كَمَثَلِ ٱلَّذِي يَنۡعِقُ بِمَا لَا
يَسۡمَعُ إِلَّا دُعَآءٗ وَنِدَآءٗۚ
صُمُّۢ بُكۡمٌ عُمۡيٌ فَهُمۡ لَا يَعۡقِلُونَ
Wa matsalul-ladziina kafaruu kamatsalil-ladzii yan'iqu bimaa laa
yasma'u illaa du'aa-an wa nidaa-an
shummun bukmun 'umyun fahum laa ya'qiluun(a)
Dan perumpamaan (orang-orang yang menyeru) orang-orang kafir adalah
seperti penggembala yang memanggil binatang yang
tidak mendengar selain panggilan dan seruan saja [107].
Mereka tuli, bisu dan buta,
maka (oleh sebab itu) mereka tidak mengerti."
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ كُلُواْ مِن طَيِّبَٰتِ مَا
رَزَقۡنَٰكُمۡ وَٱشۡكُرُواْ لِلَّهِ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ
Yaa ayyuhaal-ladziina aamanuu kuluu min thayyibaati maa
razaqnaakum waasykuruu lillahi in kuntum iyyaahu ta'buduun(a)
Hai orang-orang yang beriman,
makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu
dan bersyukurlah kepada Allah,
jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah."
إِنَّمَا حَرَّمَ عَلَيۡكُمُ ٱلۡمَيۡتَةَ وَٱلدَّمَ وَلَحۡمَ
ٱلۡخِنزِيرِ وَمَآ أُهِلَّ بِهِۦ لِغَيۡرِ ٱللَّهِۖ فَمَنِ ٱضۡطُرَّ
غَيۡرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَلَآ إِثۡمَ
عَلَيۡهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
Innamaa harrama 'alaikumul maitata waddama wa lahmal khinziiri wa maa
uhilla bihii lighairillahi famaniidhthurra ghaira baaghin wa
laa 'aadin falaa itsma 'alaihi innallaha ghafuurun rahiim(un)
173.
Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan bagimu bangkai, darah,
daging babi,
dan binatang yang (ketika
disembelih) disebut (nama) selain Allah [108].
Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang dia
tidak menginginkannya dan tidak (pula)
melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya.
Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
إِنَّ ٱلَّذِينَ يَكۡتُمُونَ مَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلۡكِتَٰبِ
وَيَشۡتَرُونَ بِهِۦ ثَمَنٗا قَلِيلًا أُوْلَٰٓئِكَ مَا يَأۡكُلُونَ فِي
بُطُونِهِمۡ إِلَّا ٱلنَّارَ وَلَا يُكَلِّمُهُمُ ٱللَّهُ
يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ وَلَا يُزَكِّيهِمۡ وَلَهُمۡ عَذَابٌ أَلِيمٌ
Innal-ladziina yaktumuuna maa anzalallahu minal kitaabi wa
yasytaruuna bihii tsamanan qaliilaan uulaa-ika maa ya'kuluuna fii
buthuunihim ilaannaara wa laa yukallimuhumullahu yaumal
qiyaamati wa laa yuzakkiihim wa lahum 'adzaabun aliim(un)
Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah
diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang
sedikit (murah), mereka itu sebenarnya tidak memakan (tidak menelan)
ke dalam perutnya melainkan api [109],
dan Allah tidak akan berbicara [110] kepada mereka pada hari kiamat
dan tidak mensucikan mereka dan
bagi mereka siksa yang amat pedih."[5]
أُوْلَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ ٱشۡتَرَوُاْ ٱلضَّلَٰلَةَ بِٱلۡهُدَىٰ
وَٱلۡعَذَابَ بِٱلۡمَغۡفِرَةِۚ فَمَآ أَصۡبَرَهُمۡ عَلَى ٱلنَّارِ
Uulaa-ikal-ladziinaasy-tarawuudh-dhalaalata bil hudaa
wal 'adzaaba bil maghfirati famaa ashbarahum 'alannaar(i)
Mereka itulah orang-orang yang membeli
kesesatan dengan petunjuk dan siksa dengan ampunan.
Maka alangkah beraninya mereka menentang api neraka!"
ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ نَزَّلَ ٱلۡكِتَٰبَ بِٱلۡحَقِّۗ
وَإِنَّ ٱلَّذِينَ ٱخۡتَلَفُواْ فِي ٱلۡكِتَٰبِ لَفِي شِقَاقِۢ بَعِيدٍ
Dzaalika bi-annallaha nazzalal kitaaba bil haqqi wa
innal-ladziina-akhtalafuu fiil kitaabi lafii syiqaaqin ba'iid(in)
Yang demikian itu adalah karena Allah telah menurunkan Al Kitab
dengan membawa kebenaran;
dan sesungguhnya orang-orang yang berselisih tentang (kebenaran) Al
Kitab itu,
benar-benar dalam penyimpangan yang jauh (dari kebenaran)."